Wednesday, December 29, 2004
This will never be the same

Tidak akan sama
Kala tahun ini ditutup dengan bencana
Di saat bangsaku masih berduka
Di Alor, Nabire, Nias, dan jua Aceh

Tidak akan sama
Tahun baru nanti
Di saat bangsaku masih berduka
Saat alam tiada ramah menyapa

Masihkah ada rasa
Ingin berbahagia
Sesaat saudara kita tiada asa
Duka nestapa dan lara

Masihkah ada rasa
Bila kita bersuka cita
Berpesta tahun baru
Gegap gempita membahana dunia

Bilakah kita tersadar
Betapa kita begitu angkuhnya
Menatap alam semesta
Hanyalah sebentuk jasad tanpa jiwa

Bilakah kita tersadar
Bahwa tlah tiba waktunya
Teguran dari yang Maha Kuasa
Dihantarkan-Nya lewat kuasa-Nya

Belaian-Mu menghentak jiwaku
Sapa-Mu mendera hatiku
Begitu besar iradat-Mu

Belaian-Mu menjemput jiwa-jiwa kami
Ampuni kami
Yang tiada pernah bertanya
Bagaimana bila menimpa kami

Tuhan..
Kau tlah ingatkan
Amarah-Mu tidak hanya untuk para pendosa
Mereka polos adanya turut serta

Tuhan..
Kau tlah ingatkan
Suatu saat nanti manusia kan ditebarkan
Bagai anai-anai tanpa daya

Mengapa bumi jadi begini ?
Sesungguhnya Tuhanmu tlah perintahkan padanya

Posted at 09:22 am by oshi
Make a comment  

Tears In Heaven

Tears In Heaven
Would you know my name
If I saw you in heaven?
Would it be the same
If I saw you in heaven?


I must be strong
And carry on,
'Cause I know I don't belong
Here in heaven.


Would you hold my hand
If I saw you in heaven?
Would you help me stand
If I saw you in heaven?


I'll find my way
Through night and day,
'Cause I know I just can't stay
Here in heaven.


Time can bring you down,
Time can bend your knees.
Time can break your heart,
Have you begging please, begging please.


Beyond the door,
There's peace I'm sure,
And I know there'll be no more
Tears in heaven.


Would you know my name
If I saw you in heaven?
Would it be the same
If I saw you in heaven?


I must be strong
And carry on,
'Cause I know I don't belong
Here in heaven.

- Eric Clapton -

Posted at 07:07 am by oshi
Make a comment  

Tuesday, December 28, 2004
Donate for Aceh ?

PKPU

Raya Condet No.27-G Batu Ampar, Jakarta Timur
Telp (021) 87780015
Fax. (021) 87780013
Rekening kemanusiaan PKPU antara lain
BMI Sudirman No.301.00354.15
BSM Mampang No. 003.000.6216
BCA Soepomo No. 600.034.7777
BNI Tebet No.11785917
Bank Mandiri Ps. Minggu No. 126.000.1005.114
Danamon Bintaro No. 41000002454

informasi: pos@centrin.net.id 
website
http://www.pkpu.or.id/

Dompet Dhuafa

BNI Syariah Fatmawati 807.000008888.009
BCA Pondik Indah 237.300.6343
Bank Mandiri Pondok Indah 101.0081050633

website http://www.dompetdhuafa.or.id/

Portal Infaq

Bank Syariah Mandiri Cab. Warung Buncit No.Rek.0030035790 a/n Yayasan PortalInfaq
Bank Mandiri Cab. Kuningan No.Rek.124-0001079798 a/n Yayasan PortalInfaq
BCA Cab. Arteri Pondok Indah No.Rek.291-300-5244 a/n Yayasan PortalInfaq

Dompet Kemanusiaan Media Indonesia
309 300 7979 BCA Kedoya Baru

Kotak Pundi Amal SCTV
084 266 2000 BCA Wisma Asia

Indosiar
BCA Indosiar: 001 - 304 - 0009

RCTI
BCA RCTI: 128 - 300 -7000

Posted at 08:16 am by oshi
Comments (2)  

Duka Aceh

26 December 2004

Duka lara kembali menimpa tanah pusaka rencong serambi Makkah.
Belum habislah didera pemberontakan separatis,
penindasan masa militerisme,
eksploitasi penguasa terhadap sumber daya alam disana,
kini.....
mereka harus kembali dicoba.

Cobaan kali ini sungguh terasa amat pedihnya...
Ribuan generasi masa depan harus terenggut nyawanya..Adik-adik kita
Ratusan ribu hektar tanah tempat mereka menetap dan hidup luluh lantak..
Dan Entah Ratusan Ribuan jutan harta mereka melayang
diamuk ganasnya gelombang tsunami pada hari itu..

Aceh berduka..
Belum lepas rasanya dari ingatan betapa penderitaan mereka ketika
disana bergelok peperangan antar sesama saudara.

Aceh berduka..
Kini mereka harus rela membangun rumah dan masa depan mereka
Entah berpa lama dapat pulih kembali

Aceh berduka
Apakah kita turut merasakannya
Di saat kita masih nikmat bersantap dan tertawa terbahak
Di kala kita masih nyaman berteduh di gedung dan rumah nan asri
Di waktu kita masih bisa bercengkerama lepas bersama keluarga

Disana..
mereka menangis
Ibu kehilangan suami dan semua anaknya
Suami kehilangan Istrinya
Dan mereka pun kehilangan harapan hidup
Kehilangan apa saja

5000 nyawa bukanlah sedikit
walau di negara ini nyawa seakan tak berharga
tidak berarti kita tak acuh

sepantasnyalah kita berkaca diri
sejauh mana kita peduli pada mereka
Walau kita tak hidup di aceh sana
bukan berarti mereka bukan saudara kita
mereka adalah saudara kita jua
sebagaimana saudara2 kita di nabire, alor, banyuwangi, solo, palembang...

Tiga hari berkabung tidaklah cukup
Walau bendera setengah tiang kukibarkan dari ujung sabang sampai merauke
Senantiasa tidak pernah cukup untuk membantu mereka

Mereka butuh obat-obatan
Mereka butuh makanan
Mereka butuh perhatian
Mereka butuh rehabilitasi tempat tinggal
Mereka butuh kita
Mereka butuh kita semua

Marilah dukung semua usaha untuk memulihkan kondisi saudara2 kita di aceh




Posted at 08:04 am by oshi
Make a comment  

Monday, December 27, 2004
Ujung Genteng -- 24 Des 04

Selama Perjalanan

Semenjak tanggal 24 kemarin, saya dan beberapa orang pejuang Khandaq
berkunjung ke pantai ujung genteng, Surade, Sukabumi. Di lokasi yang masih pristine itulah,kami berencana menetap selama dua malam. Tujuan kami kesana adalah untuk taliful qulub, menguatkan ikatan persaudaraan di antara kita  sambil bertafakkur alam dan rekreasi menjauhi kota.

Perjalanan dimulai dari jumat pagi tanggal 24 jam 09 dari Bambu Apus (kediaman Master Yoga).
Diawali dengan doa safar dan diiringi senandung yang kadang riuh rendah kadang berisik, kita pun berangkat. Mengendarai pesawat tempur Eddy, laskar pertama berangkat..
Dikomandani oleh Pilot Eddy dan Navigator Saudagar Ade dan dengan tim konsumsi Hary dan Iji Joy Tobing serta Sound Engineer Oshi akhirnya perjalanan dimulai.

Jam 12 kurang sikit, kamipun berlabuh untuk mensucikan diri menunaikan sholat Jumat di daerah Sukabumi. Gak sampe 1 jam, kamipun meneruskan perjalanan. Disinilah perjalanan menemukan ujiannya. Bukan karena kecelakaan, rek.Tapi karena kami belum makan siang dan gak ada tanda2 tempat makan siang yang cukup representative. Walhasil, ada tukang sawo, kamipun mampir (mborong nih ceritanye biar gak laper).

Perjalanan berlanjut, sound engineer pun mulai beraksi demi melupakan rasa kriuk-kriuk di paruik (laper di perut-red). Semua kaset yang ada pun dilahap habis, sampai suara jadi serak-serak kering. Untungnya akhirnya ada rumah makan nan asri di pinggir jalan,... saat itu jam sudah menunjuk pukul 3 sore...So, It's show time...

Ternyata sambel orang pegunungan itu galak-galak ya.. Oshi yang biasanya gak doyan makan sambel, ceritanya penasaran sama bentuk sambel si Ibu warung yang warnanya agak hijau kemerahan itu. Diambillah satu sendok teh sambel ke piring. Begitu dicicipi se-coel, ...Duarrrr...dunia serasa berputar, pening rasanya kepala...terhuyung-huyung diriku mencari air untuk memnghilangkan rasa pedas, maka ditenggaknyalah bergelas-gelas air. Wah belum hilang juga rasa pedas yang membakar itu di mulut.  "GANASSSS.... ini sambel nonjok banget" . Walhasil Oshi pun mencomot permen alpenliebe, yang ada di warung si Ibu... Alhamdulilah, normal kembali tuh lidah. Baru kali ini makan siang pake permen hehehehe...

Abis makan kenyang, kami jalan lagi, kali ini lebih tenang dan terkantuk-kantuk, sehingga sang navigator nyetel kaset yang iramanya menghentak-hentak. Subhanallah, alangkah indahnya suasana pinggir kiri dan kanan jalan. Pepohonan rindang seakan menjemput kedatangan kita. Tak habis-habisnya memandangi pemandangan pinggir jalan, sampai tak terasa sudah terlihat nyiur-nyiur indah yang menandakan bahwa kita kan segera sampai di pantai. Subhanallah, fabi ayyi ala irobbikuma tukadz-dzibaan?

Kira-kira Jam 4 kita mendarat di Cottage Ummi, penginapan tempat kita kan menumpang..(Lho..numpang toh?). Penginapan ini bentuknya sangat unik. Bangunannya terbuat sebagian besar dari bambu, sebagaimana bangunan kampung pada umumnya. Pada bagian dindingnya, semuanya terbuat dari terpal plastik yang disusun berwarna-warni. Tidak seperti biasanya gubuk2 bambu yang dindingnya terbuat dari gedek bambu.

Tempat ummi ini berada di tengah2 hutan belukar. Konon, tempat ini adalah tempat TNI AU melakukan latihan. Karena disana bukan tempat rekreasi komersil, maka tidak ada hotel atau penginapan permanen berserta turis-turisnya. Ummi ini adalah orang asli sana yang diminta untuk menjaga kawasan tersebut. Untuk masuk ke tempat Ummi, kita harus berjalan selama sekitar 15 menit melalu hutan2 dan semak belukar disisi kiri kanan jalan. Serasa memasuki kawasan hutan lindung di kaki gunung euy..Mobil sebenarnya bisa masuk, tapi sebaiknya sebelum pasang naik. Karena bila pasang telah naik maka jalanan tempat dilalui mobil akan tertutup air laut.

Laskar kedua ditargetkan akan tiba dua jam setalh kedatangan kita disana.
Sambil nunggu laskar kedua mendarat, kitapun sholat ashar dulu, berbenah dan nyemplung ke pantai karang..eh sepadan pantai. Main-main air dulu lah..!

Setelah maghrib, laskar kedua dengan mengendarai 'jet' kapsul mendarat dengan mengirimkan tim advancenya yaitu Donny Solid AG dan Presiden Suharto. Pesannya singkat yaitu.....
"tolong jemput laskar lain yang tertinggal di jet."
Lalu diutuslah Daku dan Ade sang Saudagar untuk menjemput jet kapsul dengan menunggang bebek 4 tak. Melewati semak belukar di sisi kiri kanan lumayan agak-agak ngeri juga, apalagi kepikiran kalau tiba2 nongol ada ular gitu dari atas pohon, wahhh gak kebayang deh. Lampu sorot motor yang terang itupun tidak dapat menghilangkan kesan angker dan gulitanya suasana saat itu.

Waktu malam pertama

So pasti yang namanya anak pantai gak bakal melewatkan malam hari.
Setelah sholat Isya, kita menyusun agenda berikutnya, apa yang mau dilakukan pada malam pertama ini...
Kesepakatannya adalah:
Agenda pertama :
- Memanggang ayam-ayam yang sudah siap santap, pake kayu bakar
Agenda kedua :
- Makan ngariung rame-rame di pinggir pantai
Agenda ketiga, dan yang paling penting:
- Tafakkur 'alam, merenungi kecilnya diri ini di hadapan alam semesta dan sang Pencipta

dan dilanjutkan dengan Menikmati Bintang Malam di Tepi Pantai.

Masa sih ke pantai tapi gak menikmati pemandangan pantai malam hari ?
Kita ngobrol-ngobrol lho sampe ngantuk (baca: tidur), sementara di kejauhan masih terlihat banyak nelayan yang sibuk nyari ikan... Entah sampe jam berapa kami di tepi pantai..sungguh damainya alam malam itu.
OK, agenda besok adalah berburu ikan..!!


Pagi Hari

Ba'da sholat shubuh, sambil menunggu terbitnya matahari, kita semua keluar ke sepadan pantai. Di sepanjang pantai ke arah laut kira-kira 500 meter, kita berjalan bukan di atas pasir, melainkan karang yang menjorok ke pantai. Sangat unik... Di atas karang ini kami main bola, foto-foto, mencari ikan-ikan kecil yang masuk ke dalam ceruk-ceruk karang.

Sambil menyisir pantai kita menuju kampung nelayan yang berjarak sekitar 1 km dari tempat kita berada. Desir-desir angin pantai di pagi hari membuat kita terhenyak akan sungguh indahnya suasana alam pantai. Betapa alam yang telah diwariskan kepada kita ini telah begitu banyak memberikan kehidupan kepada manusia. Akan tetapi, banyak dari manusia yang tidak memperdulikan alam dengan merusaknya, menjadikannya sebagai tempat pembuangan limbah dan sampah produksi manusia. Sangat disayangkan...

Sarapan dengan ikan bakar yang masih segar memang berbeda rasanya, apalagi sambil duduk di dalam warungnya para nelayan, wah serasa back to nature banget loh.. Setelah puas makan dan sejenak dua jenak beristirahat, kami pun melanjutkan perjalanan kembali ke penginapan, tapi melalui jalan lain yang memutar. Waktu telah menunjukkan pukul 9, tak terasa.. Kami melalui pasar ikan, dan sempat melihat banyak ikan2 yang masih ditimbang oleh para pedagang ikan. Sebuah geliat pasar belayan di pagi hari. Di arah pantai pasar tersebut, kami turun dan kembali menyusuri pantai kembali ke tempat semula.

Siang hari

Ya, disinilah ujung paling selatan dari Jawa Barat. Jika teman-teman melihat peta ujung genteng, maka teman2 akan melihat bagian menonjol di selatan dari ujung genteng. Disanalah kami berada saat itu.

Siang ini, kami berencana untuk berkungjung ke arah barat laut, menyusuri pantai barat hingga sampai ke pantai Pangumbahan yang terkenal itu. Dengan mengendarai panther, kamipun menyusuri pantai2 putih yang terlihat sangat cerah disinari oleh matahari. Karena saat itu bukan liburan sekolah, maka pengunjung pun tidak terlihat banyak. Di sisi kanan terlihat banyak penginapan-penginapan disewa oleh para pengunjung. Di pantai ini sempat terjadi insiden, dimana mobil yang kita tumpangi terperosok masuk ke dalam lubang pasir. Dengan bantuan dahan2 kelapa yang berserakan, akhirnya kita berhasil mengeluarkan roda ban dari pasir. Walhasil, mobil jadi penuh pasir sekarang...

Ujung genteng, nama yang tidak asing di kalangan pecinta alam terbuka. Bahkan kalau kita browsing di internet, ujung genteng sering disebut-sebut sebagai pantai indah (karena pasirnya putih bersih) dan memiliki ombak yang sangat tinggi yang katanya enak buat surfing. Berhubung ga pernah surfing, selain surfing di internet :p jadinya belum pernah ngalamin tuh.

Entah kenapa, muter-muter hampir satu jam, kita gak sampai juga ke pangumbahan,daripada buang waktu ga jelas tujuannya akhirnya agenda diubah, kita kembali ke penginapan dan selanjutnya membeli ikan di pasar ikan...Yap, Anda benar..kali ini ikan akan jadi santapan kita nanti malam. Nyammi..! jadilah ikan2 tersebut berpindah ke mobil kita untuk jadi hidangan malam hari..sedappp.

Siang itu sepulang keliling2, kami merencanakan untuk kegiatan sore di pantai. Rencana disusun, ba'da sholat ashar kita akan mencari tempat yang pasirnya jernih untuk tempat berenang. Masak ke pantai tapi gak berenang... sayang donk?!
Gak terasa sampai maghrib kita berenang-renang...

Malam kedua

Malam terasa sangat indah, ini adalah malam kedua kita di ujung genteng. Setelah mandi dan sholat Maghrib, kami sudah siap dan duduk manis menunggu ikan yang sedang disiapkan. Kebetulan kita minta tolong ke keluarga Ummi untuk memasakkan ikan2 tersebut. Hehehe...dasar pemalas!!

Alhamdulillah, perut kenyang..akhirnya kami pun saling bertukar cerita sesama kita. Mungkin sebagian cerita itu adalah cerita yang sudah berulang-ulang kita dengar, dari dia lagi dia lagi juga. Tapi karena suasana santai yang tercipta disana membuat kita jadi betah dan nyaman. Bang Joy pun turut menyumbangkan suara emasnya dengan bersenandung lagunya Ebiet G Ade. Lagu tentang alam yang sangat pas dengan suasana malam itu. Kita tidak pernah menyadari bahwa lagu yang dinyanyikan pada malam itu menjadi lagu pilu bagi bangsa Indonesia di hari berikutnya.

Pagi hari

Allahu akbar...!!

Pagi hari yang syahdu, di tanggal 26 Desember 2004. Ba'da shubuh, ketika matahari masih jua menampakkan sinarnya, kami sudah bersiap-siap berangkat menuju Jakarta. Walaupun masih belum mandi, tapi kita semua sudah menampilkan wajah yang segar dan ceria.

Alhamdulillah, by His Grace, kita semua dapat menikmati rekreasi 3 hari di ujung genteng. Sebuah perjalanan yang menyisakan kenangan yang tertulis selalu di lembaran sejarah tim Khandaq dan semoga kelak di kemudian hari tim ini tetap solid dan istiqomah dalam menapaki perjalanan dan perjuangan bersama-sama.





Posted at 09:46 am by oshi
Make a comment  

Previous Page
   

<< November 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30

Sekedar ingin menumpahkan sesuatu lewat tulisan
feel free to contact me





rss feed